Death-Lock

Xaliber Deathlock's blog. World in Xaliber's perception.

Tuesday, September 26, 2006

Featured Post

Ha. 2 hari saya gagal puasa karena sakit. Baru hari ini mulai puasa.. Benar2 bukan hal bagus.
Karena tidak ada hal bagus yang mau dibahas, jadi saya mau menulis featured post, post2 di masa lalu yang menurut saya bagus.

Agustus 2006
Minggu, 6 Agustus 2006
It was a story... of a noble family
Cerita dalam bahasa inggris yang mungkin didasari atas peristiwa nyata

Kamis, 17 Agustus 2006
Manusia - Mereka yang membuat, mereka yang menghancurkan
Sebuah kritik saya terhadap mereka yang melupakan darimana mereka belajar

September 2006
Minggu, 6 Agustus 2006
Rippers, Plagiarists, and Traitors
Lagi, sudut pandang dan kritik saya terhadap 3 jenis orang tersebut

Minggu, 10 September 2006
Antara Wordpress dan Blogspot
Sebuah perbandingan antara blog provider : Wordpress dan Blogspot

Sabtu, 23 September 2006
"Tekanan" Kelompok Mayoritas
Pengaruh dari kelompok mayoritas di suatu komunitas menurut sudut pandang saya.



Sementara ini, baru itulah post2 yang menurut saya menarik ^^;;
Maklumlah, masih baru. Dan post2 tersebut idenya berasal dari saya sendiri, jelas.
Yah, terima kasih sudah membaca, dan kalau mau, bisa membaca2 post2 tsb dengan mengklik link2nya.

Sunday, September 24, 2006

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya... (termasuk saya)
Post ini ditulis saat mendekati imsak di waktu setempat (04:11 AM).

Yah.. semoga puasa di hari pertama ini lebih baik dari tahun sebelumnya.
Dan semoga puasa di tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.

Sedikit 'pesan' dari saya :

Kenapa ada yang namanya ralat
Karena tidak ada yang sempurna
Jika ada kesalahan yang telah saya perbuat
Mohonlah dimaafkan semuanya



-_-V

Saturday, September 23, 2006

"Tekanan" Kelompok Mayoritas

Dalam suatu komunitas, kita sadari maupun tidak, sering terbentuk kelompok-kelompok kecil lainnya. Secara umum, kelompok-kelompok tersebut kita bedakan menjadi dua. Mereka adalah kelompok mayoritas dan kelompok minoritas. Pembedaan kelompok ini terjadi entah berdasarkan gaya hidup, minat, agama, faham, atau pun lainnya. Penggolongan tersebut mengakibatkan "kekuasaan" kelompok mayoritas lebih besar dari yang lain. Yang nantinya, "kekuasaan" itu secara tidak langsung mengakibatkan "tekanan" kepada kelompok yang tidak/kurang mempunyai "kekuasaan".

Sekarang, mari kita bahas "tekanan" kelompok mayoritas. "Tekanan" ini tidak hanya menekan minoritas saja. Tekanan dapat menekan segala pihak: minoritas, pendatang, maupun orang luar. Mengapa disini pihak "pendatang" dipisahkan dengan "minoritas"? Karena "pendatang" berbeda. "Pendatang" masih benar-benar baru, belum terikat dengan kelompok mana pun. Nantinya mereka dapat bergabung dengan "mayoritas", "minoritas", ataupun keduanya (terpecah). Kembali ke masalah tekanan. Tekanan ke pihak minoritas, jelas merupakan suatu yang pasti, mayoritas pasti akan menekan minoritas, mau - tidak mau, langsung - tidak langsung. "Tekanan" ini berupa berbagai macam, bisa berupa tekanan dalam berpendapat, kebebasan, fisik, atau mental. Untuk lebih mudahnya, misalnya, tekanan dalam berpendapat. Pendapat kaum mayoritas tentu selalu lebih diakui dibandingkan dengan pendapat minoritas, terlepas dari baik dan buruknya. Lalu contoh untuk tekanan kebebasan. Misalnya si A dari kaum minoritas ingin ke daerah B. Namun daerah B rupanya dilarang oleh kaum mayoritas. Maka si A tidak bisa kesana, kecuali dengan mempertaruhkan resiko konflik dengan kaum mayoritas -- perlawanan mental atau fisik. Yang berarti konflik tersebut berdampak lagi ke tekanan mental atau fisik dari kaum mayoritas.

Selain ke kaum minoritas, tekanan ini juga berdampak ke kaum pendatang. Jika ada pendatang baru di suatu komunitas, hal pertama yang dilakukan tentu adalah adaptasi. Dan selama proses adaptasi tersebut, "tekanan" kaum mayoritas kembali memainkan perannya. Agar bisa diterima di suatu komunitas, tentu pendatang berusaha untuk bersosialisasi. Dan proses sosialisasi tersebut, biasanya ke para kaum mayoritas, selain karena kaum mayoritas secara jumlah memang lebih banyak, mereka juga lebih diakui dibanding minoritas. Akhirnya, mengira bahwa kehidupan di tempat baru seperti yang sudah dipraktekkan oleh kaum mayoritas, pendatang lambat laun juga mengikuti dan bergabung dengan kaum mayoritas. Walaupun begitu, hal ini tidaklah mutlak. "Tekanan" ini masih bersifat relatif, masih bergantung pada "kekuatan" minoritas untuk mempertahankan eksistensinya dan "pribadi" pendatang itu sendiri.

Selain, minoritas dan pendatang, efek "tekanan" ini juga ke para "orang luar". "Orang luar" bukanlah bagian dari kaum mayoritas, minoritas, maupun pendatang. "Orang luar" adalah orang luar, bukan bagian dari suatu komunitas tersebut. Mereka adalah "komunitas" lain yang setara, lebih tinggi, atau lebih rendah; orang yang keluar dari komunitas tersebut; atau individu yang bukan bagian dari "komunitas" mana pun, pengamat. Seperti apakah tekanan yang diberikan oleh kaum mayoritas, sampai-sampai berdampak ke "orang luar"? Banyak. Sedikit dari itu, adalah "tekanan" keputusan, dan "tekanan" pendapat (bukan "tekanan" dalam berpendapat). Contoh dari tekanan keputusan, adalah misalnya rakyat negara A sering berdemo atas pemerintahannya, dan pemerintah akhirnya memenuhi keinginan rakyat. Tapi, apakah semua rakyat menginginkan hal tersebut? Tidak. Masih ada kaum minoritas yang belum tentu setuju dengan keinginan mayoritas. Contoh aktual adalah kasus Tibo. Lalu, "tekanan" pendapat. Saya tegaskan sekali lagi, tekanan pendapat ini berbeda dengan tekanan dalam berpendapat yang diberikan ke kaum minoritas. Tekanan pendapat ini, adalah tekanan yang mempengaruhi pendapat "orang luar" ke suatu komunitas. Misalnya, masih mengambil contoh negara A tadi. Rakyatnya sering berdemo. Maka, "orang luar" (dalam hal ini, negara lain) menilai bahwa rakyat negara A adalah rakyat yang sering berdemo. Padahal, itu adalah hal yang diakibatkan oleh kaum mayoritas. Dan yang seperti ini dapat dikatakan "tekanan", karena secara tidak langsung "menekan" orang luar untuk beranggapan bahwa rakyat negara A adalah pendemo.

Begitulah "tekanan" yang diberikan oleh kaum mayoritas. Apakah tindakan kaum mayoritas selalu benar? Apakah opini mereka adalah yang terbaik? Apakah pemikiran mereka patut dijadikan tuntunan dalam masyarakat? Jawabannya tidak. Tidak segala hal yang diberikan oleh kaum mayoritas adalah yang terbenar, terbaik, dan patut dijadikan tuntunan. Mengutip pernyataan Bethla Garrison / Gun dengan sedikit modifikasi :
Jika ada 10 orang yang berkumpul, dari 9 di antara mereka mengatakan 1 + 1 = 3, sedangkan yang satu orang mengatakan 1 + 1 = 2, siapakah yang benar? Anda hanya melihat kebenaran berdasarkan suara terbanyak. Padahal suara terbanyak belum tentu benar.
Dan bagaimanakah cara kaum lainnya menghadapi tekanan ini? Untuk kaum minoritas, adalah dengan memperjuangkan eksistensinya di komunitas tersebut. Jika kaum minoritas hanya semakin mengucilkan diri, eksistensinya makin lama makin tidak diakui. Namun memperjuangkan eksistensi bukan selalu berarti "bergabung" dengan mayoritas. Kaum minoritas harus mempunyai spesialisasi tersendiri, yang membuat "orang luar", "pendatang", dan bahkan "mayoritas" mengakui dan menghargai pendapat "minoritas", sehingga meminimalisir diferensi antara "mayoritas" dan "minoritas".

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, begitu juga dengan saya dan post ini. "Tekanan" mayoritas memang benar adanya, namun mungkin ini diakibatkan oleh sudut pandang saya sebagai minoritas. Sekali lagi, everything is relative, dan konflik bukanlah penyelesaian suatu masalah. Terima kasih sudah membaca.

Kelompok Mayoritas dan Minoritas

Kemarin, saya membuat essai tentang "Tekanan Kelompok Mayoritas". Dan kebetulan, pada hari yang sama, teman saya, AceofSpade juga membuat puisi dengan tema yang sama.

Berikut puisinya :
Pandangan Seekor Burung

Daun berguguran
Seperti hatiku yang gugur luruh
Melihat segala keadaan
Burung terbang
Seperti rasaku yang terbang
Tinggalkan segala kebobrokan

Aku hanya seekor burung
Yang menangis dalam benakku
Semut yang berpedih kerja di bawah
Merapikan sarangnya
Sementara manusia yang berakal budi
Hancurkan sarang itu

Apakah manusia seutuhnya itu?
Apakah makhluk yang menindas apa yang di bawah kakinya
Kalau begitu sungguh hina manusia seutuhnya
Apabila benar begitu
Ke mana si semut harus berjalan?

-D.A. / Kohana Chiaki / Annas Aslam Azis-


Hmm.. jalan pikiran yang mirip -_-a
Tapi berbeda. Tapi mirip. Tapi berbeda. Tapi . . . . apa sajalah -_-"

Wednesday, September 20, 2006

ADSL

Ini bukanlah suatu post yang penting. Hanya sebuah tulisan yang umum ditemui pada sebuah jurnal harian.

Jadi, kali ini masalah ADSL, yang diprovide oleh Telkom, Speedy.
Sudah 3 hari ini, dari tanggal 6 ~ 9 September 2006 Speedy saya mengalami masalah (entah dengan yang lain).
Koneksi melambat. Terputus secara tiba-tiba. Puncaknya, koneksi putus total. Tidak bisa mengakses internet sama sekali.
Hal ini tak akan dipermasalahkan kalau baru terjadi sekali ini. Sayangnya, hal ini sudah cukup sering terjadi, walaupun tidak dalam jangka waktu yang berdekatan.
Akibat dari ini, saya jadi tidak bisa melakukan hal penting yang seharusnya dilakukan hari Selasa kemarin. Memang tidak terkait hidup dan mati, tapi tetap saja penting.
Salah satu yang penting dari itu adalah mengoreksi karakter RP di Gotei 13.

Yah sudahlah, post ini tidak jelas dan tidak bermakna, hanya memuat wujud kekesalan saya saja. Maka dari itu ada baiknya jika kita sudahi sekarang.

Terima kasih sudah membaca.

Sunday, September 10, 2006

Antara Wordpress dan Blogspot

This is an edited version of the Xaliber's Wordpress Blog. Click here to view the original post.

Ya. Antara Wordpress dan Blogspot. Seperti yang Anda tahu, selain blog yang ini saya juga punya blog satunya di Wordpress, yang kurang terurus. Fiturnya lebih sedikit, dibanding yang ini. Bagi yang masih memulai dunia blogging, dan menjadikan 2 blog saya sebagai contoh (siapa juga yang mau menjadikan blog sy jadi contoh? ^^; ), mungkin yang terlintas adalah : "Ah, Wordpress minim fitur, Blogspot banyak fitur", karena pada kenyataannya, memang begitulah yang terjadi di blog saya. Namun, sebenarnya tidak juga.

Sebenarnya, diantara Wordpress dan Blogspot, mana yang lebih bagus? Sebuah pertanyaan. Dua sistem blog tersebut sama-sama menyediakan fitur host blog sendiri (jadi kita download/linking lalu kita host di website sendiri), dan fitur dihost oleh mereka. Pertama-tama, kita bahas dulu fitur kalau kita sendiri yang ngehost.

Jika kita dengan rajin mau menghost Wordpress, dapat menjadi suatu blog yang sangat bagus, bahkan bisa menjadi sebuah website, seperti yang kita lihat di http://nicola.ifsz.net atau http://marialanger.com. Namun, untuk melakukan hal itu, diperlukan pengetahuan komputer yang tidak sedikit. Belum lagi mendesain layoutnya. Tapi, diluar masalah managing, hasilnya akan sangat memuaskan. Maka dari itu banyak orang yang memutuskan untuk host Wordpress mereka sendiri. Sementara, blogspot, dengan masalah managing yang sama, hasilnya tidak akan begitu terlihat perbedaannya dengan blog yang dihost oleh blogspot sendiri. Kesulitan sama sulit, hasil lebih buruk. Maka dari itu, biasanya orang lebih memilih blogspot untuk dihosting oleh blogspot.com-nya.

Kedua, kalau mereka (baca : Provider Blog) yang hosting blog kita. Wordpress kalau bukan kita yang hosting, fiturnya akan sangat minim sedikit sekali (kebanyakan kata-kata nih ^^;; ). Bahkan untuk mengganti banner saja ribet, untuk menambahkan shoutbox saja tidak bisa. Di lain pihak, Blogspot menyediakan fitur kustomisasi HTML untuk blognya. Untuk memasang shoutbox mudah, banner tinggal ganti, bahkan skin bisa desain sendiri. Mayoritas orang yang tidak mau/tidak sanggup host blog mereka sendiri, memilih blogspot sebagai alternatif.

Masalah hosting sudah dibahas.. sekarang masuk ke masalah ACPnya, atau Admin Control Panelnya. Sebenarnya mungkin bukan itu sebutannya, tapi saya mau sebutnya begitu :P Ah ya, yang dibahas disini adalah kalau kita ngga hosting sendiri ya, dengan kata lain dihost sama providernya.
Wordpress, bisa dibilang memiliki ACP yang bagus. Layout bersih, tab-tab yang draggable,fitur import dan export post dari berbagai macam blog, dan lain-lain. Pengkategorian posting juga ada disini. Selain itu, berhubungan dengan masalah koneksi internet, untuk loading pagenya, ACP Wordpress jauh lebih baik. Sementara itu, ACP Blogspot, untuk membukanya kadang-kadang lamanya luar biasa. Bahkan siput dapat berjalan lebih cepat (hiperbola ^^;; ). Begitu loading selesai... yang tampil adalah layout yang 'kasar' (menurut saya saja lho, no offense). Sederhana dan kurang bagus, tidak ada draggable tab, import dan export post juga tidak ada. Pengkategorian posting? Apalagi. Kategorikan saja sendiri ^^;; Jadi... konklusinya dalam ACP, Wordpress lebih 'profesional'.

Jadi, kembali ke pertanyaannya, diantara Wordpress dan Blogspot, mana yang lebih bagus? Seperti yang sudah pernah saya katakan di Blognya Ivan :

Untuk pemilihan ini, sekarang dilihat dari fungsi/tujuannya saja. Untuk apa membuat blog? jika memang mengutamakan isi, gunakanlah Wordpress yang tanpa dihost sendiri. Karena kalau tujuannya memang memuat jurnal harian, fitur-fitur seperti shoutbox, dll tidak begitu penting. Namun jika tujuannya mengutamakan kover, gunakanlah blogspot, karena berbagai fitur seperti shoutbox, dll tentu penting. Karena tanpa perlu kita host sendiri, kustomisasinya sudah sangat mudah.

Begitulah menurut saya. Yaa.. sebelum Anda berkomentar, perlu diingat satu hal. Everything is relative, apalagi pendapat ini. Opini adalah suatu hal yang sangat relatif, opini 10 orang terhadap 1 orang bisa sangat bervariasi. Maka dari itu, mohon koreksi saya bila kurang tepat, mohon maklumi saya kalau ada salah-salah kata, dan budayakanlah bicara sopan (swt.. apa ini? ^^;; )

Terima kasih.

Friday, September 01, 2006

Rippers, Plagiarists, and Traitors

Rippers, Plagiarists, and Traitors

They who deserves punishment -- Death Penalty


3 tipe orang yang disebutkan diatas, adalah orang-orang yang hanya menginginkan keuntungan demi dirinya sendiri. Agar dianggap sebagai orang yang ber"prestasi", mereka dengan sengaja melakukan itu. Ya, ber"prestasi", tak terkecuali Traitors (pengkhianat), berprestasi dalam arti berhasil mendapatkan keuntungan di pihak lain.

Mari kita bahas satu persatu ketiga tipe orang yang tergolong tidak berguna ini.


Rippers

Rippers, yang diambil dari kata rip, yang berarti merobek, mengambil, atau merenggut (bukan R.I.P. = Rest In Peace). Dan ditambahkan partikel -er, yang berarti seseorang yang merenggut. Kenapa merenggut? Kata merobek kurang tepat digunakan, mengingat bahwa tidak semua yang di'rip', harus dirobek, untuk beberapa hal, kata ini kurang mengena (walaupun konsepnya sama). Lalu 'mengambil' juga kurang tepat, karena bisa berarti mengambil dengan izin, padahal konteks yang dibahas adalah mengambil tanpa izin.
Jadi, kata 'merenggut' adalah yang paling tepat, mengambil sesuatu tanpa izin pemiliknya, dan kadang2 disertai dengan perlawanan dari kedua belah pihak.

Para ripper, digolongkan sebagai sampah, karena alasan diatas tadi. Mengakui karya orang lain sebagai karyanya. Lebih-lebih, beberapa ripper memusnahkan/menghilangkan keberadaan karya aslinya, entah dihancurkan, atau diambil & dijadikan miliknya.
Dalam dunia internet, ripper biasanya adalah mereka yang mengambil coding web/script milik orang lain, lalu mengakuinya menjadi milik mereka. Terkadang mereka menambahkan beberapa hal, namun sangat sedikit. Dan jika mereka memiliki akses untuk mengubah2 coding originalnya, mereka akan menghapusnya sebisa mungkin. Ini yang menyebabkan mereka berbeda dengan para plagiator, yang akan dibahas berikutnya.

Plagiarists

Plagiarist dan Plagiator. Apa bedanya? Sebenarnya sama saja artinya, namun bahasanya berbeda. Mungkin 2-2-nya memang terlihat seperti Bahasa Inggris, namun Plagiator adalah Bahasa Indonesia. Dan orang kadangkala mengalami miskonsep tentang ini, mengira plagiator adalah bahasa Inggris, karena bahasa Indonesia mengadopsi bahasa inggris (partikel -or).
Kembali ke definisi plagiat. Plagiat, menurut kamus adalah menjiplak sesuatu tanpa izin pemiliknya. Apa beda plagiator dengan ripper? Plagiator tidak menghancurkan karya originalnya, mereka hanya menjiplak, dan menjiplak. Dan kalaupun diubah, hanya sebatas hal-hal yang tak perlu dipikir.

Contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari adalah mencontek. Ya, mencontek dalam arti sebenarnya, bisa dibilang merupakan tindakan plagiat (menjiplak karya tanpa izin namun tdk menghilangkan karya original). Mereka tidak lebih baik dari ripper, karena pada intinya sama-sama mengambil karya orang lain tanpa izin. Istilah plagiat biasanya digunakan untuk seseorang yang menjiplak karya2 seni/tulis. Dalam dunia internet, plagiat biasa disebut ripper.

Traitors

Traitors. Pengkhianat. Yang terendah diantara yang terendah. Bahkan Adolf Hitler juga membenci orang-orang seperti ini. Berbeda dengan ripper & plagiarist yang memiliki partikel tambahan, traitor tidak memiliki partikel tambahan -or. Traitor merupakan kata yang berdiri sendiri.
Menurut ilmu hukum, traitor (pengkhianat) adalah seseorang yang mengkhianati negara asalnya atau mengingkari sumpah kesetiaannya, dan dengan suatu cara berkerja sama dengan musuh. Para pengkhianat, dari yang saya tahu juga sangat tidak disukai oleh agama mana pun. Karena mereka telah diberi kepercayaan, namun mereka mengingkari kepercayaan itu dan menyalahgunakannya. Dan, biasanya para pengkhianat bekerja sama dengan musuh untuk mengakibatkan kehancuran kelompok yang ditinggalkannya.
Untuk pengkhianat, ada beberapa contoh. Contoh pertama adalah dalam kasus kerja kelompok di sekolah. Si X telah bergabung dengan kelompok A, namun karena suatu alasan, ia bergabung dengan kelompok B. Secara tidak langsung, si X mengakibatkan kehancuran kelompok A -- dalam hal ini dia berusaha agar kelompok barunya berhasil menjalankan tugas, dan itu berarti memperkecil peluang kelompok A untuk berhasil, walaupun tidak harus dengan menghambat kelompok A.
Contoh kedua, dalam NAZI. Ketika Nazi Jerman dalam masa-masa kehancuran, beberapa officer Nazi keluar dan berkhianat. Mereka mencari keselamatan agar tidak perlu mati, dan secara langsung mengingkari sumpah kesetiaan mereka kepada Hitler.
Contoh ketiga, dalam organisasi. Mirip2 dengan contoh pertama -- si X yang pindah dari kelompok A ke B -- namun dalam organisasi, itu dapat berarti ada rahasia organisasi yang tidak boleh dibocorkan. Dan jika si X bergabung ke kelompok B, itu berarti si X dapat membocorkan rahasia itu ke kelompok B. Dan jelas, ini adalah suatu bentuk pengkhianatan.



Punishment

Hukuman apa yang pantas untuk orang2 seperti mereka? Sebenarnya, ini kembali ke keputusan pihak-pihak yang menanganinya. Contoh, untuk pengkhianat dalam Nazi, mereka dihukum mati. Ripper dalam coding di internet, biasanya coding mereka dihapus oleh yang berwajib (host, atau moderator). Plagiator dalam sekolah (menyontek), bisa kertasnya dirobek, nilai = 0, atau pun lainnya.

Namun menurut saya sendiri, orang2 seperti mereka pantas mendapatkan sesuatu yang menjadi deskripsi judul artikel ini.
"They who deserves punishment -- Death Penalty" -- hukuman mati. Kenapa? Jelas, orang2 seperti itu sudah tidak pantas hidup lagi. Mereka sama seperti penjahat-penjahat, jika dibiarkan, hanya akan mengakibatkan kerugian. Bagaimana dengan Rehabilitasi? Percuma.
Narkoba, mungkin ya. Ripper, Plagiarist, and Traitor, nope. Absolutely not. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka. Sulit untuk menghilangkannya, apalagi mereka tidak mendapatkan kerugian yang cukup berarti, seperti yang dilakukan narkoba. Apalagi tidak begitu banyak orang yang menuntut perbuatan mereka, hanya dalam kasus besar saja perbuatan mereka benar-benar dituntut. Padahal, kejadian ini berlangsung hampir setiap hari di seluruh belahan dunia.
Jadi, untuk mengeksekusi mati mereka bukanlah ide yang buruk. Selain dapat mengurangi populasi penduduk, juga untuk mencegah kegiatan gila yang merajalela di semua kalangan umur ini.